
Pembalap Monster Energy Yamaha, Fabio Quartararo, kembali menjadi sorotan setelah ditanya soal perbedaan mesin V4 dan inline-4 di ajang MotoGP. Pertanyaan ini muncul seiring meningkatnya performa motor bermesin V4 yang saat ini mendominasi grid MotoGP, sementara Yamaha tetap setia menggunakan konfigurasi inline-4.
Quartararo pun memberikan jawaban yang cukup jujur dan teknis, mencerminkan pengalamannya sebagai juara dunia MotoGP 2021 sekaligus pembalap yang merasakan langsung keterbatasan dan keunggulan mesin inline-4.
Karakter Dasar Mesin yang Berbeda
Menurut Quartararo, perbedaan utama antara mesin V4 dan inline-4 terletak pada karakter tenaga dan cara motor berakselerasi. Mesin V4 dikenal memiliki akselerasi yang lebih agresif, terutama saat keluar tikungan. Tenaga yang dihasilkan terasa lebih “penuh” sejak putaran rendah hingga menengah, membuat motor V4 sangat kuat dalam duel lurus dan saat menyalip.
Sementara itu, mesin inline-4 yang digunakan Yamaha memiliki karakter yang lebih halus dan linear. Quartararo menyebut tenaga inline-4 terasa lebih mudah dikontrol, terutama saat memasuki tikungan dengan kecepatan tinggi. Inilah alasan Yamaha dikenal unggul dalam menjaga kecepatan menikung (corner speed).
Keunggulan Inline-4 Menurut Quartararo
Quartararo menegaskan bahwa inline-4 bukan mesin yang buruk. Justru, konfigurasi ini sangat membantu pembalap untuk menjaga ritme dan konsistensi selama balapan. Motor dengan mesin inline-4 cenderung lebih stabil saat miring dan memberikan feedback yang jelas kepada pembalap.
“Dengan inline-4, kamu bisa membawa kecepatan lebih tinggi di tikungan. Motor terasa lebih lembut dan tidak terlalu liar,” kira-kira itulah inti pandangan Quartararo. Hal ini membuat gaya balap Yamaha sangat bergantung pada kecepatan masuk tikungan dan alur balapan yang bersih.
Kelemahan Inline-4 di Era MotoGP Modern
Namun, Quartararo juga mengakui bahwa di MotoGP modern, inline-4 mulai kesulitan menandingi keunggulan V4, terutama saat akselerasi dan top speed. Motor V4 lebih mudah memanfaatkan aerodinamika dan sistem ride-height device, sehingga unggul di lintasan lurus.
Situasi ini membuat Quartararo sering harus bekerja ekstra keras untuk mempertahankan posisi, terutama saat melawan Ducati, KTM, atau Aprilia yang semuanya menggunakan mesin V4. Ia bahkan harus “sempurna” di setiap tikungan agar tidak kehilangan waktu.
Apakah Yamaha Harus Beralih ke V4?
Saat ditanya apakah Yamaha sebaiknya beralih ke mesin V4, Quartararo tidak memberikan jawaban tegas. Ia menekankan bahwa setiap mesin memiliki filosofi dan keunggulan masing-masing. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana pabrikan mengembangkan motor secara keseluruhan, bukan hanya soal konfigurasi mesin.
Quartararo juga menilai bahwa Yamaha masih bisa kompetitif jika mampu meningkatkan traksi, akselerasi, dan performa mesin tanpa mengorbankan keunggulan di tikungan.
Penutup
Jawaban Fabio Quartararo soal perbedaan V4 dan inline-4 menunjukkan bahwa persaingan MotoGP bukan sekadar soal tenaga terbesar. Inline-4 menawarkan kontrol dan kelincahan, sementara V4 unggul dalam tenaga dan akselerasi. Tantangan Yamaha ke depan adalah menemukan keseimbangan agar tetap mampu bersaing di tengah dominasi mesin V4.